Postingan

Menulismu

Menulismu untuk kali pertama Atas luka yang bukan pertama kalinya Dalam hari-hari yang terlewat tanpa sapa Tapi nampaknya, atas kehilangan ini kita tak benar-benar berduka  Entah aku yang terlalu perasa Atau kamu yang tak lagi harap kita ada Berdialog dengan detak milik sendiri Tentang heningmu yang mengundang luka Lantas kita berlalu Lantas kita tak satu Lantas kau lupa aku Benarkah? Aku pun ragu, Namun rasanya, benar begitu

Layar Hidup

 Halaman Kasih Untuk Si Abu Sehari lebih awal Perasaannya tetap serupa Dengan sedikit kegaduhan Sebab senandung layar hidup Bip...bip...bip... Nadanya bergema, sepersekian detik berselang Lalu kembali teringat dulu Kala ia dirombak paksa Hingga berujung ketidaksempurnaan Buruk rupanya, Sakit badannya, Lalu berganti indranya Meski dengan guna yang sama Meskipun begitu, Aku tetap memuja, Banyak syukur atas hadirnya, Berita gembira atas kekalahan Hadiah besar atas perjuangan Hiduplah yang lama, Grey.

Jeda kesukaan

  Kepada Sabtu Ia adalah ketenangan Terus memanggil untuk kembali Menyesapnya dalam  bulir-bulir kelegaan Duduk di samping jendela kesenangan Aku selalu suka, Datang sendiri sembari menatap balok tinggi di seberang Haruslah berlomba agar lekas mendapat meja  Bukan sekadar lomba, memenangkannya adalah jeda Dari carut marut senin-jum'at Jujur, aku jatuh suka Kepada sabtu Kepada sendiri Juga parkir 2000 -Kopi Kenangan Tlogomas, Kota Malang

Menuju Timur

Temu Di Ujung Patah Oleh Viona Anatasya Kita bersapa di ujung patah Saling tertawa, di atas luka yang masih basah Lalu kau menjelma bak nahkoda Atas kapalku yang pernah karam Kau putar kemudi dengan mendayu Hingga ku tak sadar telah berlabuh "Hai Nahkoda! Pernahkah kau rasa asin lautan?" Aku menghampirimu di balik kemudi  "Lebih dari pekat, Netraku perih kala tenggelam" Lantas kau tersenyum bak anomali Bukankah perih itu abadi dalam netramu?  Mengapa seolah kau tlah lupa Pun dengan sengaja, kau biarkan harap berlalu lalang Mengamit jemariku, lantas menuju timur kita berjalan

Tersimpan

  Bertaut (oleh Viona Anatasya) aku memintamu dalam bait doa harap datang, kala kepak sayap perlahan sirna tiada lagi ingin terbang tiada pula bergenggam tangan biarlah saja berjalan, kearah barat kita tenggelam "hahaha", tawa kita bersahutan, lengan kita bergandengan, jemari kita bertautan, ya, dalam buku itu rapi tersimpan kita tetaplah pada surya yang sama berdansa ria dalam kenang  ingin abadi, dalam remang lampu tidur benarkah dayamu cukup? tidurlah saja, kau pun tau, mimpi kita masihlah panjang

balasan puisi sekedar nama

Lembar Baru Oleh Bang Ockta Febriadi Usai sudah riuh pikirmu Hilang sudah selimut kelabu Tak ada lagi perasaan yang membiru Usaplah air mata yang berderu Mungkin sudah jalanmu,  Hanya sekedar tamu di tempat yang semu Di lembaran baru, Semoga dirimu temukan rumah yang kukuh,   Utuh untuk berteduh

Tak Sama

Hanya senangku Oleh Viona Anatasya Kamu menjadi sendu  Atas kasih yang kita padu Bukankah kemarin hanyalah tawa? Mengapa pula hari ini tinggal lah haru? Aku sungguh mencintamu tanpa tapi Lantas kau buat ku bertanya akan pasti Pastikah rasamu sama? Atau hanya aku yang rasa? Aku tiada paksa dirimu tinggal Dalam senang yang ku ingin dirimu serta Bila kau sungkan tuk bilang enggan Janganlah buat daku mencari  Tiada mengapa kau pandang aku berlinang Kala kau ucap tak mau Kita berakhir Setelah kisah telah terukir Meski tak tau kapan bermulai Aku tak ingin kita usai Kau juga mencari jawab Atas tanya, bukankah aku yang minta akhiri? Ya, memanglah aku Jiwa yang harap dikau rengkuh  Dalam peluk yang erat sungguh Tapi aku salah, kau tak ingin redam resahku Tiada pula tanya mengapa begitu Lantas kau berlalu  Sisakan yakin, bahwa kita takkan bisa menjadi satu