Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

lebih lama

Cahaya cita oleh Viona Anatasya teruntuk yang tersayang, mamak dan bapak, ini aku, anak kecilmu yang kau asuh, dengan suka yang kau didik, dengan cita ku harap, puisi ini terkenang jua, biar kuberitahu pada dunia bahwa, sgala tentangmu adalah indah tiada redup cahaya kasihmu slalu saja bak pelita bukannya aku tak tau, bila relung hatimu, slalu penuh dengan do'a pun dalam diammu, kau semogakan, agar aku tiada susah meski engkau slalu bersusah payah, menghabiskan hari, mengais rupiah tiada libur bagimu, karena asa milikmu jua mak, pak, nantikan aku lebih lama, memang tak secepat mereka, tak pula luar biasa,  tapi biarlah, ku lukis tawamu meski sungguh sederhana hingga nanti, bahagia itu nampak di mata dan kau sebut, namaku dengan bangga

kepada pelita

Pemilik Asa oleh Viona Anatasya hai mudaku, bisakah kita berbalik sejenak? ku ajak dikau susuri pelik atas ia yang penuh asa hai mudaku, nampak dikau pahat itu, milik ia, yang tlah lupa akan lelah ia bahkan tak buta, tak pula mati rasa dan dikau masih bertanya "mengapa bisa?" hai mudaku, adakah mereka dalam relungmu? sang mentari yang penuh hangat  meski kadang tak kau ingat ia benderang tiada redup lantas, bagaimana mudaku? adakah suka yang kau damba? atas sulit yang kau lupa tak mengapa pelan, biar kalut kau bawa serta tak mengapa rintih, biar langkahmu dengan tertatih asal esok kau bangun jua menabung mimpi penuh tawa

ombak kemarin

Berlayar bila kemarin tak datang hujan kan ku biar riang itu terus menari, berputar-putar kesana kemari tiada penat, dalam langkah yang tak terbilang bukankah benar perciknya indah? bukankah benar bila riaknya tak terlupa? tentu saja, tiada ku sanggah bila saja ombak kemarin tak buat karam tiadalah takut bahteraku berlayar meski tak sama bak yang lalu, tetaplah laut tenggelamkan pikiran memang tak seramah itu, tak se-elok itu, tak setenang itu, ya, itulah cemas atas rasa yang tak sempat ku beri nama beralaskan gemuruh tak pasti hujan tak lagi terpikir bahwa luka tetaplah duka karena sgala tentangmu adalah tawa entah lelap atau terjaga, relung ini slalu penuh   tiada ruang tak terisi ya, sgala tentangmu menjadi jingga dan aku slalu takjub akan rona yang berlalu secepat perhentian kereta