Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2023

balasan puisi sekedar nama

Lembar Baru Oleh Bang Ockta Febriadi Usai sudah riuh pikirmu Hilang sudah selimut kelabu Tak ada lagi perasaan yang membiru Usaplah air mata yang berderu Mungkin sudah jalanmu,  Hanya sekedar tamu di tempat yang semu Di lembaran baru, Semoga dirimu temukan rumah yang kukuh,   Utuh untuk berteduh

Tak Sama

Hanya senangku Oleh Viona Anatasya Kamu menjadi sendu  Atas kasih yang kita padu Bukankah kemarin hanyalah tawa? Mengapa pula hari ini tinggal lah haru? Aku sungguh mencintamu tanpa tapi Lantas kau buat ku bertanya akan pasti Pastikah rasamu sama? Atau hanya aku yang rasa? Aku tiada paksa dirimu tinggal Dalam senang yang ku ingin dirimu serta Bila kau sungkan tuk bilang enggan Janganlah buat daku mencari  Tiada mengapa kau pandang aku berlinang Kala kau ucap tak mau Kita berakhir Setelah kisah telah terukir Meski tak tau kapan bermulai Aku tak ingin kita usai Kau juga mencari jawab Atas tanya, bukankah aku yang minta akhiri? Ya, memanglah aku Jiwa yang harap dikau rengkuh  Dalam peluk yang erat sungguh Tapi aku salah, kau tak ingin redam resahku Tiada pula tanya mengapa begitu Lantas kau berlalu  Sisakan yakin, bahwa kita takkan bisa menjadi satu

Sebatas Nama

Kau dan Senangmu oleh Viona Anatasya Aku kalah Dalam riuh debar jantungku Oleh megah bayang milikmu Bahkan meski kita diliput suka Aku tak kunjung henti menduga,  Bahwa tawa kan sampai pada tiada Memang benar, bila temu kita penuh riang Tapi sejatinya kita tak pernah benar-benar sampai Kau dan senangmu tuk hilang dari pandangku Aku dan inginku yang slalu ingin kau bawa serta Aku kalah Oleh pikirku yang penuh tanya Tentang dirimu yang ku tahu hanya sebatas nama Sungguhkah kita satu? Atau mungkin hanyalah lalu? Ya selalu berhenti di kalimat itu Yang ku tahu, kau tetaplah ruang hampa Terus ku tata, hingga hati kian patah Bukankah lebih bahagia dirimu, bila dikau tak balas suka? Tak perlu pasang lampu biar berbinar Tak perlu sebar wewangian biar semerbak Tak pula payah merayu bila hati penuh marah Kau juga tahu bila aku hendak bertamu Mengapa kau bagi kunci rumahmu, bila tak ingin aku menetap jua?